6 Kesunahan Saat Melakukan Sholat

Diposting pada

6 Kesunahan Saat Melakukan SholatRambu Islam,

Sholat merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap umat Islam, khususnya bagi orang yang sudah memenuhi persyaratan sholat.
Meninggalkan sholat adalah dosa, orang yang meninggalkannya baik sengaja atau tidak sengaja diharuskan untuk menggantinya atau qadha.

Sebagaimana ibadah pada umumnya, dalam shalat ada aturan yang harus dilakukan serta sholat tidak sah jika aturan tersebut tidak dilakukan.
Dalam istilah fiqih ini disebut dengan rukun, kemudian juga ada kesunahan sholat yang tidak berpengaruh pada sah atau tidaknya ibadah, tetapi dianjurkan untuk melakukannya.

Inilah yang dimaksud dengan sunah sholat

Para ulama membagi sunah sholat dalam dua kategori: sunah ab’ad dan sunah hai‘at. Dua pembagian ini mungkin sudah sangat populer, termasuk macam-macam dari dua bagian itu. Tetapi, Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan beberapa kesunnahan shalat lainnya di luar sunah ab’ad dan hai‘at. Di antara kesunahan shalat yang disebutkan Zainuddin Al-Malibari adalah:

سن دخول صلاة بنشاط وفراغ قلب وفيها خشوع وتدبر قراءة وذكر وإدامة نظر محل سجوده وذكر ودعاء سرا عقبها

Artinya, “Disunahkan mengerjakan sholat dengan semangat, hati dalam keadaan kosong, khusyuk, menghayati bacaan serta dzikir, mengarahkan pandangan ketempat sujud, zikir serta doa setelah sholat secara sir atau tidak mengeraskan suara,” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyyah, 2009], halaman 49).

6 kesunahan yang dianjurkan pada saat mengerjakan sholat:

  • Mengerjakan shalat dengan semangat karena Allah SWT menyindir orang-orang munafik yang mengerjakan shalat dengan malas, Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 142:

وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى

Artinya, “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.”

Sebagai orang beriman tentu kita tidak mau cara sholat kita disamakan dengan orang munafik.
Sebab itu, jangan bermalas-malasan ketika mengerjakan sholat.

  • Mengosongkan hati dari segala macam kesibukan serta pikiran.
    Saat shalat, usahakan pikiran fokus pada bacaan yang dibaca serta tidak memikirkan kegiatan yang dikerjakan sebelum shalat atau yang akan dikerjakan.
    Mengosongkan hati dan pikirin termasuk cara untuk melatih kefokusan atau khusyuk.
  • Mengerjakan shalat dengan penuh kekhusyukan.
    Pada saat shalat, usahakan pikiran fokus kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta tidak memikirkan yang lain.
    Memang khusyuk tidaklah mudah, tapi ini perlu diusahakan terus menerus.
  • Merenungi setiap bacaan dan zikir yang dibaca saat sholat.
    Merenungi serta menghayati bacaan shalat termasuk salah satu cara untuk meningkatkan kekhusyukan ibadah.
    Jangan sampai lisan kita membaca bacaan sholat, tetapi pikiran serta hati melayang entah kemana.
  • Pandangan mengarah ketempat sujud.
    Mengarah pandangan ketempat sujud juga termasuk cara meningkatkan kefokusan.
    Ini disunahkan bagi orang buta sekalipun atau orang yang sholat dalam ruangan yang gelap.
  • Disunahkan setelah shalat, berdzikir serta berdoa dengan tidak mengeraskan suara, khususnya bagi orang yang shalat sendiri.
    Namun bukan berati dzikir serta doa mengeraskan suara setelah sholat tidak dibolehkan.
    Hal ini tetap dibolehkan sebagaimana dijelaskan Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in:

يسن الإسرار بهما لمنفرد ومأموم وإمام لم يرد تعليم الحاضرين ولا تأمينهم لدعائه بسماعه

Artinya, “Disunahkan tidak mengeraskan zikir dan doa bagi orang yang sholat sendiri, serta bagi makmum dan imam yang tidak ingin mengajarkan makmumnya dan tidak (berharap) mereka mengamini doanya.”

Dengan kata lain, imam yang bertujuan untuk mengajarkan dzikir kepada makmum atau membimbing makmum untuk tetap fokus dalam berdzikir dibolehkan mengeraskan suara pada saat dzikir.
Imam yang ingin berdoa dan diamini bersama-sama oleh makmum juga dibolehkan.

Dzikir bersama dengan mengeraskan suara setelah shalat bukanlah bid’ah tercela karena Nabi juga pernah melakukannya dengan para sahabat.
Hal ini sebagaimana dikisahkan Ibnu Abbas dalam hadits Bukhari dan Muslim.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ، كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخاري ومسلم

artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, ‘Bahwa mengerasakan suara dalam berdzikir ketika orang-orang selesai shalat maktubah itu sudah ada pada masa Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam,” (HR Bukhari-Muslim). Wallahu a’lam.

 

(Source) Nu Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *