Beberapa Hal Menghilangkan Kekerasan Hati

Diposting pada

Terdapat perbedaan yang mencolok pada orang yang hatinya keras dengan yang lemah lembut, hati lembut mudah menerima nasihat-nasihat baik, mudah melakukan amal kebaikan serta serangkaian ibadah maupun kebaikan lain.

Hati yang keras tidak mudah menerima nasihat-nasihat, tidak bisa khusyu’ serta jauh dari Allah subhânahȗ wa ta’âlâ.

Setidaknya ada tiga tips untuk melunakkan hati yang keras

1. Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat dengan mengganti kegiatan yang bernilai positif seperti menghadiri majelis-majelis ilmu, diskusi keilmuan, mendengarkan nasihat-nasihat yang baik, dzikir, mengkaji hal yang membuat gemar melakukan ibadah, menyimak petuah yang dapat menakutkan orang melakukan maksiat serta mendengarkan atau membaca kisah-kisah orang shalih.

2. Mengingat kematian, ada seorang wanita datang kepada istri Rasulullah, Sayyidah Aisyah, seraya mengadukan hatinya yang mengeras, lalu Aisyah memberikan saran wanita tersebut untuk selalu mengingat kematian.

Petuah Aisyah terbukti, di kemudian hari wanita yang kemarin datang mengeluh itu pun datang sembari mengutarakan untaian kata terima kasih kepada Aisyah atas saran yang diberikan.

Menurut Abu Muhammad Abdul Haq dalam bukunya al-Aqibah halaman 40, mengingat kematian dapat mencegah manusia berbuat maksiat, melembutkan hati yang keras, menghilangkan kesukaan terhadap dunia dan meringankan ujian serta halang-rintang yang ada di dunia ini.

3. Menyaksikan orang yang sekarat atau akan mati, melihat proses orang dicabut nyawanya, mengamatinya saat nyawa sudah lepas, melihatnya terbaring dalam tidur yang tidak akan bangun kembali, kemudian berpikir bahwa kelak ia akan dibangkitkan dengan mempertanggungjawabkan amal perbuatan yang telah ia lakukan, hal tersebut akan memudahkan hati orang menjadi lembut.

Suatu ketika, Hasan al-Bashri pernah menjenguk orang sakit yang bertepatan dengan proses lepasnya nyawa dari sekujur tubuh, ia mengamati bagaimana susah serta sakitnya proses itu.

Usai meninggal, Hasan al-Bashri pulang ke rumah namun dengan rona wajah yang tidak sama saat ia berangkat tadi.

Keluarganya mencoba menawari makan, namun hanya dijawab, “Makan serta minumlah makanan punya kalian. Baru saja aku melihat orang meninggal. Aku akan selalu beramal baik hingga aku menjumpai kematian itu.”

Jika kita kesulitan mendapati tiga macam hal di atas, semuanya bisa terangkum dalam satu kegiatan berupa ziarah kubur.

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

زُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تٌذَكِّرُ الْمَوْتَ وَالْآخِرَةَ وَتُزْهِدُ فِى الدُّنْيَا

Artinya: “Berziarahlah kalian ke kuburan-kuburan. Karena hal tersebut dapat mengingatkan kematian dan akhirat serta menjadikan hati zuhud (menjaga jarak) dengan dunia.

Sebaiknya orang yang ingin hatinya lembut melalui ziarah kubur di sini tetap memakai adab serta tata cara ziarah yang baik supaya misi tersebut bisa tercapai.

Di antaranya niat ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengucapkan salam saat hendak memasuki area pemakaman, melepaskan alas kaki, tidak berjalan di atas makam, serta yang lainnya. Wallahu a’lam.

(Ahmad Mundzir)

(Disarikan dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, Kitâbut Tadzkirah bi Ahwâlil Mautâ wa Umȗril Akhirah, Maktabah Dârul Minhâj, Riyadh, 1425, Jilid I, halaman 132-133)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *