Berita Dari Malaikat Kepada Ahli Ibadah

Diposting pada

Berita Dari Malaikat Kepada Ahli Ibadah – Rambu Islam, sholat puasa haji sedekah adalah ibadah wajib bagi kita sebagai wujud menjalankan perintah.

Dalam salah satu kitab Ayyuhâl Walad Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dikisahkan ada seorang Bani Israil yang selalu taat dalam beribadah kepada Allah. Selama 70 tahun hamba ini menunjukkan kesalehannya.

 

Satu ketika Allah mengutus Malaikat untuk mengabarkan ke hamba tersebut bahwa dari semua ibadah yang ia kerjakan itu tidak lantas membuat dirinya pantas masuk dalam surga.

 

Ketika kabar tersebut disampaikan, sang hamba ahli dalam ibadah ini berucap, “Kami diciptakan oleh Allah untuk menunaikan ibadah maka sudah seharusnya kami pun beribadah.”

 

Jawaban dari hamba ini sejalan dengan isi dari ayat yang termuat pada Surat ad-Dzariyat ayat 56:

 

“Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

 

Sang hamba Ahli ibadah tersebut tidak memperlihatkan tanda-tanda keluhan atas berita dari malaikat, melainkan hanya sekadar menerangkan bahwa ibadah yang dilakukan selama 70 tahun sejatinya hanya perwujudan menjalankan perintah dari Allah.

 

(Baca juga : Hadits Memuliakan Wanita Dalam Islam)

 

Kemudian Malaikat kembali kepada Allah dan berkata, “Ya Ilâhi, Engkau lebih mengerti dan tahu apa yang dikatakan oleh ahli ibadah itu.”

 

Kemudian Allah menjawab, “Seandainya dia tidak berpaling dalam beribadah kepada-Ku, maka dengan kemurahan-Ku Aku pun tidak akan berpaling darinya. Wahai malaikat-mmalaikat-Ku saksikanlah, sesungguhnya Aku (Allah) telah mengampuninya.”

 

 

Sebanyak dan sebesar apapun Ibadah memang tidak akan pernah bisa membayar semua anugerah yang Allah berikan kepada manusia, juga balasan surga. Ritual ibadah, intensif berapapun jumlahnya, masih terlalu murah dan tidak akan cukup untuk ditukar dengan karunia yang tidak terhitung jumlahnya mulai dari hembusan nafas, kesehatan badan, harta dunia, kemerdekaan, rasa aman, hingga waktu dan kemampuan dalam menjalankan ibadah. Itu semua lantaran dari rahmat Allah-lah manusia layak mendapatkan kemuliaan surgawi.

 

Tetapi demikian, hubungan tidak seimbang antara ibadah manusia dengan karunia Allah itu tidak berarti membiarkan setiap orang berperilaku semaunya, luput dari tanggung jawab dalam ibadah. Sebab, “Siapa tidak beramal, ganjaran tidak diraihnya,” kata Imam Al-Ghazali. Perkara ini memperlihatkan, rahmat dan kasih sayang Allah kepada seorang hamba menghendaki adanya ikhtiar atau usaha manusia yang mulai sejak awal dibekali hati dan pikiran.

 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah berkata, “Siapa yang beranggapan bahwa tanpa kerja keras ia dapat berhasil maka sesungguhnya ia sedang berkhayal atau melamun. Siapa mengira bahwa sebab jerih payah ia meraih keberhasilan maka sesungguhnya ia dalam keadaan berdoa menuju ‘kaya’.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *