Bolehkah Seorang Perempuan Adzan

Diposting pada

Bolehkah Seorang Perempuan AdzanRambu Islam,

Setiap hari kita mendengar adzan yang ada di masjid-masjid dikumandangkan oleh seorang laki-laki.
Hal ini karena salah satu dari syarat sah adzan adalah dikumandangkan oleh seorang laki-laki, itu pun karena shalatnya dilakukan oleh jamaah yang terdiri dari perempuan serta laki-laki.

لا يصح اذان المرأة للرجال لما ذكره المصنف هذا هو المذهب وبه قطع الجمهور ونص عليه في الام

Artinya, “Tidak sah azan perempuan untuk jamaah laki-laki. Sebagaimana disebutkan mushannif (pengarang kitab Muhadzdzab) bahwa pendapat ini adalah pendapat madzhabnya serta pendapat jumhur ulama serta pendapat Imam As-Syafii dalam kitab Al-Umm,” (Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Beirut: Darul Fikr, t.t], juz III, halaman 100).

Dalam beberapa komunitas, terkadang kita mendapati kelompok atau komunitas yang hanya terdiri dari perempuan saja.
Biasanya mereka melaksanakan kegiatan hanya bersama anggota-anggota perempuan, termasuk melakukan shalat jamaah.

Apakah di antara mereka boleh mengumandangkan azan ketika akan melaksanakan shalat? Sebagaimana azan yang dikumandangkan oleh para laki-laki?

Imam As-Syafii dalam Kitab Al-Umm menjelaskan bahwa perempuan tidak perlu mengumandangkan azan, walaupun mereka melakukan jamaah hanya bersama perempuan.

وليس على النساء أذان وإن جمعن الصلاة وإن أذن فأقمن فلا بأس ولا تجهر المرأة بصوتها تؤذن في نفسها وتسمع صواحباتها إذا أذنت وكذلك تقيم إذا أقامت

Artinya, “Para perempuan tidak perlu adzan walaupun mereka berjamaah bersama (perempuan yang lain). Namun jika ada yang mengadzani dan mereka hanya melakukan iqamah, maka hal itu diperbolehkan. Dan juga tidak boleh mengeraskan suara mereka saat adzan. Sekiranya adzan tersebut cukup didengar olehnya sendiri serta teman-teman perempuannya, begitu juga saat iqamah.” (Lihat Muhammad bin Idris As-Syafii, Al-Umm, [Beirut: Darul Ma’rifah, 1393 H], halaman 84).

Dari penjelasan Imam As-Syafii tersebut dapat disimpulkan bahwa memang perempuan tidak perlu adzan, namun jika ada yang adzan dan iqamah maka diperbolehkan dengan syarat tidak dilakukan dengan mengeraskan suaranya, apalagi sampai seperti adzan laki-laki, khususnya seperti azan laki-laki yang menggunakan pengeras suara, hingga tidak hanya sahabat perempuan saja yang mendengar, bahkan laki-laki pun bisa mendengarkan.

An-Nawawi dalam Al-Majmu’ juga menjelaskan secara rinci kaitan ketidakbolehan perempuan adzan dengan sangat keras.
Bahkan ia juga membagi hukum adzan bagi perempuan menjadi tiga:

وأما إذا أراد جماعة النسوة صلاة ففيها ثلاثة أقوال المشهور المنصوص في الجديد والقديم وبه قطع الجمهور يستحب لهن الاقامة دون الاذان لما ذكره المصنف والثاني لا يستحبان نص عليه في البويطي والثالث يستحبان حكاهما الخراسانيون

Artinya, “Adapun jika jamaah perempuan ingin mendirikan shalat, maka terdapat tiga pendapat yang terkenal dan tertulis, baik dalam qaul jadid maupun qaul qadim dan jadid juga jumhur.
Pertama: disunahkan bagi mereka iqamah saja, tanpa melakukan adzan sebagaimana pendapat mushannif (pengarang Muhadzdzab).
Kedua: tidak disunahkan adzan dan iqamah sebagaimana tertulis dalam pendapat Al-Buwaithi.
Ketiga: disunahkan keduanya sebagaimana pendapat ulama’ Khurasan,” (Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Beirut: Darul Fikr, tanpa keterangan tahun], juz III, halaman 100).

Adapun pendapat Imam Syafii yang telah kami sebutkan di atas, termasuk kategori pendapat pertama yang hanya menyunahkan iqamah dan diperbolehkan adzan asal tidak dengan suara yang keras sebagaimana telah disebutkan di atas.
Pendapat Imam As-Syafii ini juga didukung oleh beberapa ulama yang lain, yaitu Al-Buwaithi, Abu Hamid, Qadhi Abu Thayyib, Al-Mahamily dalam dua kitabnya.
Tetapi pendapat ini ditolak oleh Abu Ishaq Ibrahim As-Syiraziy yang merupakan pengarang Kitab Muhadzdzab dan Imam Al-Jurjani dalam Kitab At-Tahrir yang berpendapat bahwa tetap dimakruhkan adzan.

Oleh karena itu, berdasarkan pendapat-pendapat Imam As-Syafii dan jumhur di atas, disunahkan bagi perempuan cukup melakukan iqamah saat akan berjamaah bersama perempuan.
Diperbolehkan azan asalkan adzan tersebut tidak keras dan cukup didengar oleh jamaah perempuan saja. Wallahu a’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *