Cerita Islami Masyitoh Dan Kekuatan Iman

Diposting pada

Cerita Islam Masyitoh Dan Kekuatan Iman – Rambu Islam, kisah nyata dan kisah teladan seorang wanita yang hidup di zaman Nabi Musa AS.


Cerita tentang seorang wanita yang bernama Masyitah dalam melindungi keimanannya ini sangat masyhur. Masyitah merupakan berprofesi sebagai pelayan di kerajaan Fir’aun. Dia ditugaskan untuk melayani putri Fir’aun.

Dengan sembunyi-sembunyi, ternyata Masyitah telah menganut ajaran Nabi Musa a.s. Ia sembunyikan keimanannya, karena Fir’aun bakal berlaku kejam kepada siapa saja yang ikut ajaran Nabi Musa a.s.

Suatu hari, pada saat Masyitah sedang menyisir rambut putri Fir’aun, dia mengucapkan kalimat basmalah dan menyebabkan putri Fir’aun mendengarnya. Dan akhirnya Sang putri melaporkan kejadian ini kepada ayahnya. Fir’aun memanggilnya dan diminta untuk menghadapnya.

“Hai Masyitah, aku dengar dari putriku kamu dan semua keluargamu sudah menganut ajaran Musa dan Harun! Apakah hal itu benar?” tanya Fir’aun.

“Benar! aku dan semua keluargaku sudah menjadi bagian dari pengikut Nabi Musa. Ketahuilah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah! termasuk dirimu!”

Mendengar hal tersebut, Fir’aun marah besar. “Baiklah, jika kamu tetap dengan pendirianmu. Maka kamu dam seluruh keluargamu akan kumasukkan ke dalam kuali itu,” kata Fir’aun, sambil menunjuk ke arah sebuah kuali besar berisikan air panas lagi mendidih.

 

Baca juga : Kisah Nabi Muhammad Pada Ingat Kematian

 

“Aku lebih takut dengan Azab Allah di akhirat dibanding hukumanmu,” jawab Masyitah dengan mantap.

Kemudian, satu demi satu keluarga Masyitah dimasukkan kedalam kuali besar itu. Sampailah pada giliran anaknya yang masih bayi, disinilah iman Masyitah diuji dengan rasa sayangnya seorang ibu.

Tetapi, disinilah terjadi keajaiban. Bayi Masyitah seketika bisa bebicara. “Wahai Ibu! Janganlah engkau ragu. Sungguh engkau berada di jalan yang benar. kelak kita akan bersama berkumpul lagi di alam surga Allah yang penuh dengan kenikmatan,”

Setelah mendengar perkataannya itu, Masyitah tidak ada keraguan lagi dan terjun bersama bayinya, menghadap Allah swt. sebagai seorang syuhada.

 
Source : NU Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *