Cerita Sufi Sadar Akan Kematian

Diposting pada

Cerita Sufi Sadar Akan Kematian – Rambu Islam, kisah inspiratif kisah sufi dan renungan islami mengenai maut yang menghadang sufi.

Suati ketika ada seorang raja darwis yang melangsungkan perjalanan melewati laut. Disaat para penumpang yang lain mulai masuk ke perahu satu persatu, mereka melihatnya dan sebagai lazimnya mereka pun meminta nasehat padanya. Apa yang diperbuat darwis tentu semua sama saja, yaitu mengingatkan orang-orang itu hal yang itu-itu juga, darwis itu kelihatannya selalu mengulang salah satu rumusan yang membuat perhatian darwis sepanjang waktu.

Rumusannya yaitu: “Cobalah sadar akan maut, hingga kamu mengetahui apa itu maut.” Cuma beberapa penumpang saja yang secara khusus terkesan dengan peringatan tersebut.

Seketika ada angin topan menerjang. Anak buah kapal juga semua penumpang berlutut, memohonkan supaya Tuhan memberi keselamatan perahunya. Berteriaklah mereka semua karena rasa takutnya, menyerah dengan nasibnya, meratap menginginkan keselamatan. Selama itu sang darwis duduk dengan tenang dan merenung,
Tidak memberikan reaksi sama sekali dengan kejadian yang ada disekelilingnya.

Akhirnya keadaan kacau itu lalu berhenti, lautan serta langit menjadi tenang, dan penumpang-penumpang kini tersadar begitu tenangnya darwis itu sepanjang peristiwa ribut-ribut itu terjadi. Kemudian seseoran bertanya kepadanya, “Apakah Tuan tidak sadar bahwa ketika waktu angin topan itu tidak ada yang
lebih kuat dibanding selembar papan, yang dapat menyelamatkan kita dari maut?”

“Oh, tentu,” jawab darwis tenang. “Saya tahu, dilaut senantiasa begitu. Namun saya juga mengerti bahwa, jika saya berada didarat dan memikirkannya, dalam perihal sehari-hari biasa, pemisah diantara kita dan maut itu lebih rapuh lagi.”

Catatan

Cerita ini ciptaan Bayazid dari Bistam, suatu tempat sebelah selatan Laut Kaspia. Ia merupakan salah seorang diantara Sufi Agung zaman dahulu, dan wafat pada paruh kedua abad ke sembilan. Ayahnya adalah pengikut Zoroaster, dan ia menerima pendidikan kebatinannya di India. Sebab gurunya, Abu-Ali dari Sind, tidak memahami ritual Islam seluruhnya, beberapa ahli berpendapat bahwa Abu-Ali beragama Hindu, dan bahwa
Bayazid pastinya mendalami metode mistik India. Namun tidak ada ahli yang berwewenang, diantara Sufi, yang mempercayai pendapat tersebut. Para pengikut Bayazid termasuk kaum Bistamia.

 

Source : jalansufi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *