Ciri-ciri Ulama Pewaris Nabi

Diposting pada

Ciri-ciri Ulama Pewaris NabiRambu Islam,

Sesungguhnya para ulama adalah seperti bintang dilangit.
Dari lantaran merekalah manusia mendapat petunjuk, merekalah yang menjelaskan kepada ummat ini jalan petunjuk serta keistiqomahan di atas pentunjuk tersebut.
Dengan merekalah ummat paham tentang jalan kejelekan serta cara menjauhinya.
Mereka di ibaratkan bagai hujan yang turun pada tanah gersang sehingga menumbuhkan berbagai tumbuhan yang bermanfaat.

Ulama yang shalih serta komitmen terhadap dirinnya adalah pewaris para Nabi.
Merekalah yang akan mengarahkan serta menuntun ummat dari kegelapan menuju islam.
Merekalah lentera-lentera kehidupan ini, sebagaimana Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Dan sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris Nabi-nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham dan mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa-siapa yang mengambilnya berarti dia telah mengambil bahagian yang sempurna”.
Hadits ini shahih, dan Imam Turmuzi, Ibnu Majah juga meriwayatkan Hadits tersebut.

Demikan tingginya kedudukan ulama didalam Islam, sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyembut mereka sebagai pewaris para Nabi, karena lantaran merekalah risalah ini akan menyebar serta akan sampai kedalam hati-hati hamba.
Menyelematkan mereka dari kegelapan jahiliyah serta menuntun ummat menuju jannah.

Tapi perlu diketahui bahwa disamping ada ulama pewaris Nabi, ada juga ulama su’ yang menjual akhirat mereka untuk mendapatkan secuil dari dunia.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya :

يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتَلُونَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنْ اللِّينِ أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنْ السُّكَّرِ وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبِي يَغْتَرُّونَ أَمْ عَلَيَّ يَجْتَرِئُونَ فَبِي حَلَفْتُ لَأَبْعَثَنَّ عَلَى أُولَئِكَ مِنْهُمْ فِتْنَةً تَدَعُ الْحَلِيمَ مِنْهُمْ حَيْرَانًا

“Akan muncul diakhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama, di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta serta kedudukan).
Allah berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku, demi Diriku, Aku bersumpah, Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR: Tirmidzi)

Ulama su’ adalah peringkat ulama yang paling rendah, paling buruk serta paling merugi, semua itu dikarenakan ia mengajak kepada kejahatan serta kesesatan.
Ia menyuguhkan keburukan dalam bentuk kebaikan, ia menggambarkan kebatilan dengan gambar sebuah kebenaran.
Mereka tidak lain adalah para khalifah syetan dan para wakil Dajjal.

Ciri Ulama Pewaris Nabi

Maka dari itu, marilah kita membahas sifat sifat seseorang, alim yang menjadi pewaris para Nabi serta menjadi pembimbing ummat menuju jalan yang lurus.

Mereka menjauhi penguasa serta menjaga diri dari mereka

Hudzaifah bin Yaman menasehatkan : “Hindari oleh kalian tempat-tempat fitnah.”
Beliau ditanya : ”Apa itu tempat-tempat fitnah.
”Beliau menjawab : “(tempat- tempat fitnah) adalah pintu-pintu para penguasa, salah seorang diantara kalian masuk menemui seorang penguasa, lantas dia akan membenarkan penguasa itu dengan dusta dan menyatakan sesuatu yang tidak ada padanya.” [ Riwayat Dailami, ma rowahu al asathin fi ‘adamil naji’I ila salathin, Jalaludin as suyuthi ].

Betapa banyak kita saksikan para Ulama yang menjadi teman dekat para pengusa telah merubah hukum serta aturan-aturan Islam.
Yang halal diharamkan, sebaliknya yang haram dihalalkan.

Mereka tidak terburu-buru dalam berfatwa (sehingga mereka tidak berfatwa kecuali setelah meyakini kebenarannya)

Yaitu para Salaf saling menolak untuk berfatwa sampai pertanyaan kembali lagi kepada orang yang pertama (di tanya).

Abdurrahman bin Abi Laila menceritakan kisahnya: Aku pernah mendapati di masjid (Nabi) ini 120 orang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tidak ada seorang pun dari mereka saat ditanya tentang suatu hadits atau fatwa melainkan dia ingin saudaranya (dari kalangan shahabat yang lain) yang menjawabnya.
Kemudian tibalah masa pengangkatan kaum-kaum yang mengaku berilmu saat ini, mereka segera menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalau seandainya pertanyaan ini dihadapkan kepada Umar bin Khattab, niscaya beliau mengumpulkan ahli Badar untuk di ajak bermusyawarah dalam menjawabnya.

Sedangkan hari ini kita lihat bersama, semua orang gampang untuk berfatwa, bahkan mereka tidak segan menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mereka ketahui karena malu pamor mereka turun.

Persis keadaan kita hari ini dengan sebuah hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًَا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًَا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًَا جُهَّالًَا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍِ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba, namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga bila tidak tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu. Mereka pun sesat dan menyesatkan (orang lain) Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy 1/163-164 dan Muslim no. 2673.

Mengamalkan ilmunya

Seorang yang berilmu tetapi tidak mau mengamalkan seperti orang-orang yahudi, sebaliknya, beramal tanpa ilmu adalam menyerupai orang-orang nasrani.

Kita diajarkan oleh Allah SWT untuk selalu berdo’a dalam shalat kita :

اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai serta bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [ Al Fatihah 6 – 7 ].

Seorang Ulama tidak hanya dilihat omongannya, tetapi yang lebih diperhatikan oleh para muridnya adalah perbuatannya.
Apa artinya omongan yang lantang serta tegas serta memukau akan tetapi amalannya jauh dari apa yang disampaikan.

Sahabat ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :
“Sesungguhnya semua manusia pandai bicara, maka barangsiapa ucapannya sesuai dengan perbuatannya, itulah orang yang mendapatkan bagiannya, dan barangsiapa perbuatannya menyalahi ucapannya maka sesungguhnya ia sedang mencaci dirinya.” [Jami’ bayanil ‘ilmi 1/696]

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullahu berkata:

لاَ يَزَالُ الْعَالِمُ جَاهِلًا بِمَا عَلِمَ حَتَّى يَعْمَلَ بِهِ، فَإِذَا عَمِلَ بِهِ كَانَ عَالِمًا
“Seorang alim senantiasa dalam keadaan bodoh hingga dia mengamalkan ilmunya, bila dia sudah mengamalkannya, barulah dia menjadi alim.” (Diambil dari ‘Awa’iq Ath-Thalab, hal. 17-18)

Semoga Allah senantiasa memberikan pada kita kekuatan untuk biasa memilih para ulama’ yang baik, dan jika kita hari ini Allah takdirkan menjadi seorang guru ataupun ustadz atau ulama, kita berusaha untuk memenuhi sifat-sifat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *