Gus Mus : Istimewanya Puasa Bulan Ramadhan

Diposting pada

Istimewanya Puasa Bulan Ramadhan – Rambu Islam, Ramadhan ialah bulan puasa yang selalu dinanti-nanti seluruh umat islam.

Sejatinya, apabila melihat sambutan dan pernyataan dari umat muslim menjelang bulan Ramadhan, pastilah bulan suci itu ialah bulan yang istimewa.

 

Tetapi dimana posisi istimewanya? Apakah cuma pada jadwal makan yang berubah, tradisi tarawih keliling menjadi ramai, dan lomba ceramah agama, juga termasuk guyon-guyonan di stasiun televisi? Bukankah selain itu semuanya seperti berjalan sebagaimana biasa?

 

Coba simak media massa, media cetak, atau media elektronik, bacalah isi beritanya. Bukankah isinya sama dan tidak banyak yang berbeda dengan hari-hari sebelum tibanya Ramadhan? Anda masih bisa menyaksikan sinetron yang bertema percintaan, film kekerasan atau infotainment. Anda masih dapat menyimak berita, seperti korupsi dengan manuver-manuver politikus. Anda juga bisa melihat aksi demo-demo dan aksi-aksi kekerasan atas nama agama dan masih banyak yang lainnya.

 

Apakah hanya kaum pedagang warung yang mesti “menghormati” Ramadhan dan mereka yang merusak tatanan justru dapat terus melenggang “melecehkan” kesucian bulan Ramadhan? Atau apakah yang sebenarnya maksud kita dengan penghormatan terhadap Ramadhan itu?

 

Bukankah lebih mirip dan selaras apabila penghormatan kita kepada bulan suci itu dengan berpuasa dan beribadah? Mendekatkan diri kepada Allah SWT? Ada yang mengataan puasa berasal dari bahasa Sanskerta: upavasa. “Upa” yang berarti dekat dan “vasa/wasa” berarti yang maha agung. Upavasa berarti mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Mendekatkan diri ke Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya merupakan yang paling disukai-Nya. Semua perintahNya ialah untuk keperluan hamba-Nya. Untuk kesempurnaannya sebagai hamba hingga pantas dan patut dekat dengan-Nya.

 

Para wali, kekasih Allah, dalam pendekatannya kepada Allah dimulai dengan dengan cara tersebut. Dengan memperlihatkan kehambaan mereka yang tulus dan ikhlas kepada Tuan mereka. Allah Yang Maha Agung. Menjalankan semua perintah Tuan adalah prioritas paling utama sebagai hamba sejati. Jadi mereka memulai dari niat dan mensucikan hati.

 

Puasa ialah salah satu perintah Allah yang istimewa. Kebanyakan perintah dari Allah begitu rentan terhadap godaan riya atau pamer. Misalnya shalat, yang semestinya dan juga ibadah-ibadah yang lain dan dilaksanakan semata-mata hanya karena Allah, sering kali dalam menjalankannya tidak bisa mengelak dari godaan pamer. Puasa, karena sifatnya, lebih jauh dari godaan tersebut. Kecuali, mereka yang memang maniak pamer, nyaris sulit dibayangkan orang yang sedang berpuasa pamer kepada orang lain dengan menunjukkan puasanya.

Orang yang berpuasa seharusnya orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat bahwa puasanya bisa  membuat Tuhannya ridha, atau minimal yakin dan percaya ada ganjaran untuk puasanya. Kalau tidak, betapa ruginya berpuasa cuma untuk menahan lapar dan dahaga.

 

Semua amal ibadah diberi pahala minimal 10 kali lipat hingga mencapai 700 kali lipat dan seterusnya, terkecuali dengan puasa. Puasa adalah ibadah yang cuma Allah SWT saja yang mengetahui seberapa besar Ia akan mengganjarnya. “Kullu ‘amali Ibni Adam lahu illash shiyaam,” kata Allah dalam hadis Qudsi, “fainnahu lii wa anaa ajzii bihi.” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a). “Seluruh amal manusia miliknya, kecuali puasa. Puasa ialah milik-Ku; Aku sendiri yang akan membalasnya”.

Terima kasih telah menyimak Istimewanya Puasa Bulan Ramadhan semoga bermanfaat. Tetap simak Rambu Islam sebagai sarana informasi seputar keislaman terlengkap dan selalu update.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *