Ketika Ahli Hadits Mencium Kaki Gurunya

Diposting pada

Ketika Ahli Hadits Mencium Kaki Gurunya – Rambu Islam, ahli hadits terkenal Imam Muslim yang begitu hormat pada gurunya Imam Bukhari.


Penghormatan kepada guru begitu dianjurkan didalam Islam. Penghormatan ini bisa dinyatakan dengan macam-macam cara. Antara lain, mencium tangan guru, membawakan tas atau kitab mereka ke dalam kelas, memapah dan membantu mereka berjalan.

 

Imbauan untuk menghormati guru ini sejak dahulu sudah diajarkan oleh para ulama. Mereka tidak canggung berebut untuk mencium tangan kiai, guru, juga ustadz yang telah memberikan ilmu kepada mereka.

 

Bahkan, Imam Muslim yang merupakan ahli hadits yang terkenal di dunia Islam, ketika berjumpa gurunya Imam Al-Bukhari, ia tidak segan untuk mencium kening juga kakinya.

 

Hal ini bukan menjadi suatu penyelewangan dan penyimpangan. Jikalau tidak benar dan diharamkan di dalam Islam, sudah pasti Imam Muslim sebagai ahli hadits tidak akan melakukan tindakan tersebut dan Imam Al-Bukhari sudah tentu melarangnya.

 

Syekh Nuruddin ‘Itr dalam Lamahat Mujazah fi Ushuli ‘Ilalil Hadits mencuplik suatu riwayat mengenai adab Imam Muslim ketika bertemu gurunya.

 

Riwayat ini bersumber dari Ahmad Ibnu Hamdun Al-Qashar bahwa Imam Muslim sempat mengunjungi Imam Al-Bukhari untuk bertanya mengenai hadits mu’allal. Disaat bertemu, beliau langsung mencium kening gurunya dan mengatakan.
“Biarkan aku mencium dua kakimu duhai maha guru, pemuka ahli hadits, dan pakar dalam kajian ‘ilal hadits.”

 

Imam Muslim yang begitu terkenal di zamannya tidak segan untuk menghormati dan bersikap rendah diri di depan gurunya. Ia tidak hanya mencium tangan, ia juga mencium kaki gurunya.

 

Dengan hal tersebut, budaya “ngalap berkah” bukan menjadi sesuatu hal yang baru dan berasal dari hadil tradisi lokal seperti yang dituduhkan segelintir orang. Ini adalah tradisi yang sudah turun temurun diajarkan oleh para ulama. Yang mengerjakannya tidak hanya para ulama lokal, namun juga dikerjakan oleh para ulama Timur-Tengah, meski dengan tata cara yang berbeda-beda. Wallahu a’lam.

 

 

Redaksi : Hengki Ferdiansyah,
Source : NU Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *