Kisah Kemarahan Abu Bakar As-Shiddiq

Diposting pada

Abu Bakar As-Shiddiq adalah sahabat yang paling percaya dengan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ia meyakini semua yang disampaikan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sesuatu yang benar atau haq, tidak ada kebatilan sedikit pun di dalamnya.
Ketika Islam didakwahkan kepadanya, Abu Bakar As-Shiddiq langsung memeluk Islam tanpa ada keraguan sedikit pun di hatinya.

Ketika banyak umat Islam saat itu yang tidak percaya dengan Isra’ Mi’raj, Abu Bakar As-Shiddiq adalah orang pertama yang percaya.
Maka tidak salah, jika Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan julukan as-Shiddiq yang berarti jujur kepada Abu Bakar.
Kejujuran, kejernihan pikiran, serta ketulusan hati Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam lah yang membuat Abu Bakar As-Shiddiq tidak memiliki rasa ragu sedikitpun terhadap Islam.

Abu Bakar As-Shiddiq merupakan sahabat Nabi yang memiliki sifat lemah lembut, tenang, serta tidak mudah terpancing hawa nafsu serta emosi.
Saking lembut hatinya, Abu Bakar As-Shiddiq kerap kali menangis ketika sedang membaca surat Al-Qur’an saat menjadi imam shalat.

Dia merupakan ‘antitesa’ dari Umar bin Khattab yang terkenal ‘galak’, tegas, keras, serta tidak sungkan untuk marah, hanya sedikit sekali riwayat yang menceritakan tentang kemarahan Abu Bakar.

Merujuk buku Abu Bakar As-Shiddiq:

Sebuah Biografi karangan Muhammad Husain Haikal, ada dua kejadian yang membuat Khulafaur Rasyidin yang pertama ini sampai naik pitam.

1. Umat Muslim diejek oleh kaum Musyrik saat Kerajaan Persia berhasil mengalahkan Romawi, ceritanya, kaum Musyrik ‘menyamakan’ umat Muslim dengan umat Kristen Romawi.

Kaum Musyrik menuduh bahwa kekalahan Romawi atas Persia adalah disebabkan karena mereka (kaum Kristen Romawi) juga Ahli Kitab sebagaimana umat Islam, informasi ini sampai di telinga Abu Bakar serta membuatnya marah.

2. Saat Finhas mengolok-olok ajaran Islam, suatu ketika Abu Bakar As-Shiddiq menghampiri segerombolan Yahudi di Madinah, Ia menyeru kaum Yahudi tersebut untuk menerima Islam serta menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Salah seorang Yahudi, Finhas, menjawab ajakan Abu Bakar As-Shiddiq itu dengan ejekan serta cemoohan yang cukup keterlaluan, Finhas mengatakan bahwa Tuhan lah yang membutuhkan mereka kepada Abu Bakar As-Shiddiq, bukan sebaliknya.
Finhas juga mengejek bahwa jika Tuhan itu kaya, maka Dia tidak akan meminta pinjaman kepada hambanya.

Cemoohan Finhas ini merupakan satire dari Surat al-Baqarah ayat 245; Siapakah yang hendak meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, yang akan Dia lipatgandakan dengan sebanyak-banyaknya.

Apa yang dilakukan Finhas itu membuat Abu Bakar menjadi geram, Dia langsung memukul Finhas dengan sekuat tenaga, tapi karena pada saat kejadian ini ada perjanjian damai antara umat Muslim dan Yahudi, maka Abu Bakar As-Shiddiq tidak meneruskan untuk menghajar Finhas.

Abu Bakar As-Shiddiq adalah orang yang tidak suka mengedepankan kekerasan serta amarah, Ia hanya akan berubah menjadi keras serta marah apabila ajaran Islam dipermainkan.

(A Muchlishon Rochmat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *