Kisah KHM Kholilurrahman Cicit Mbah Kholil Bangkalan

Diposting pada

Wafatnya cicit Mbah Kholil Bangkalan, KHM Kholilurrahman, Selasa (10/4) malam menyisakan luka mendalam di hati masyarakat, utamanya bagi kalangan ulama Madura.

“Ra Lilur (panggilan KHM Kholilurrahman, red) dikenal sebagai pasaknya bumi Madura.
Artinya, beliau memancarkan spirit karomah yang sulit ditemukan pada era kekinian,” ujar Pengasuh Pesantren Al-Abror Blumbungan Pamekasan KH Eby Syatibi Syuyuti.

Kyai Eby mengungkapkan, oleh para ulama dan habaib, Ra Lilur tetap disikapi sebagai ulama besar, meski penampilannya terbilang amat sederhana.

“Kita ketahui sendiri ulama di dalam maupun luar negeri sering berdatangan silaturrahim kepada beliau.
Mereka datang jauh-jauh hanya guna mendapatkan doa barokah dari Ra Lilur,” urai Kyai Eby.

Diterangkan, Ra Lilur adalah wali yang tidak memamerkan kewaliannya, ulama yang tidak mempromosikan keulamaannya, tetapi beliau selalu tampil sederhana, di luar kebiasaan orang-orang yang ditokohkan.

“Beliau lebih sering mengenakan kaos dalam serta celana pendek dengan mengenakan kopyah, dalam kondisi menerima tamu, beliau tetap konsisten dengan penampilannya,” urai Kyai Eby.

Menurutnya, penampilan seperti itu tetapi tetap dihormati oleh ulama dalam maupun luar negeri, menunjukkan bukan manusia sembarangan.

“Penampilan sederhana beliau menginspirasi kami, tausyiah sederhana yang dari beliau untuk menjaga iman serta akhlak, Insyaallah jadi sumber teladan bagi kami, semoga beliau masuk surga tanpa hisab,” harapnya.

Jenazah Ra Lilur, direncanakan akan dikebumikan di komplek pemakaman Syaikhona Kholil di Bangkalan, Rabu (11/4) siang ini.
Ribuan umat mulai memadati Bangkalan guna mengantarkan jenazah beliau ke pasarean terakhir.

(Hairul Anam/Muiz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *