Kisah Teladan Nabi Yusuf Alaihis Salam

Diposting pada

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah radliyallahu anh bahwa kelak pada hari Kiamat Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan perlindungan kepada tujuh golongan orang.

Salah satunya adalah golongan laki-laki yang ketika diajak berbuat maksiat oleh seorang perempuan terhormat serta cantik, dia menolaknya sebagaimana disebutkan dalam kutipan hadits berikut:

وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ الله

Artinya: “Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang cantik dan terpandang lalu menolaknya dengan mengatakan: ”Aku takut kepada Allah”

Jika ada seorang lelaki seperti digambarkan dalam hadits tersebut, pastilah ia adalah seorang lelaki yang luar biasa, disebut luar biasa sebab pasti ia memiliki kelebihan-kelebihan tertentu.

Secara fisik, pastilah ia sangat menarik sehingga seorang perempuan yang memiliki kedudukan serta berwajah cantik pun merasa tergoda dengan ketampanan serta kegagahannya.

Tetapi dengan kuatnya iman di dada lelaki itu, ia menolak ajakan tersebut karena merasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Apa yang digambarkan dalam hadits itu, mengingatkan kita kepada kisah Nabi Yusuf Alaihis Salam, ketika itu Nabi Yusuf Alaihis Salam masih muda belia dimana beliau digoda oleh Zulaikhah, istri Kepala Kepolisian Negara Mesir pada jaman itu.

Sebagai istri pejabat, Zulaikhah tidak saja terhormat serta berharta, namun dia juga sangat cantik, ia sanggup memberikan apa saja kepada Nabi Yusuf dengan segala kelebihan, kewenangan serta fasilitas yang dimilikinya.

Tetapi demikian, meskipun posisi Nabi Yusuf Alaihis Salam cukup lemah karena statusnya sebagai pembantu rumah tangga bagi keluarga Zulaikhah, beliau sanggup dan mampu menolak godaan-godaan dari sang majikan itu sampai akhirnya selamat dari jebakan kemaksiatan karena senantiasa ingat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Penolakan Nabi Yusuf atas ajakan Zulaikhah untuk melakukan perzinaan di atas diungkapkan oleh Zulaikhah sebagaimana dapat kita temukan dalam Al Qur’an Surah Yusuf, ayat 32:

وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ

Artinya: “Dan sesungguhnya aku (Zulaikhah) telah menggoda dia (Yusuf)untuk aku tundukkan dirinya, akan tetapi dia menolakku.”

Kisah penolakan Nabi Yusuf Alaihis Salam atas ajakan Zulaikhah untuk berselingkuh dapat dijadikan pelajaran berharga dalam kehidupan sehari-hari, dalam masyarakat kita sekarang dimana nilai-nilai moral serta ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terus mengalami penurunan, perselingkuhan semakin sering terjadi di mana-mana seiring dengan meningkatnya kemajuan dalam segala bidang.

Terlebih sekarang dimana kemajuan teknologi informasi serta komunikasi memberikan kemudahan-kemudahan yang luar biasa kepada semua orang.

Maka kesadaran kita untuk selalu waspada terhadap godaan-godaan perselingkuhan harus terus ditingkatkan.

Tetapi dalam kasus Nabi Yusuf Alaihis Salam dan Zulaikhah tersebut, ajakan perselingkuhan barangkali tidak ada kaitannya dengan kemajuan zaman

Ajakan itu lebih disebabkan karena mereka hidup dalam satu rumah dimana kedudukan Zulaikah di rumah itu lebih tinggi, yaitu sebagai istri majikan yang bernama Tuan Futhifar.

Sebagai majikan, Zulaikhah tentu sering berinteraksi dengan Nabi Yusuf Alaihis Salam dalam kehidupan sehari-hari di rumah itu, kepribadian Nabi Yusuf yang sangat santun dengan wajah yang sangat tampan inilah yang membuat hati Zulaikhah secara diam-diam jatuh hati padanya.

Ketika ada kesempatan untuk menggoda Nabi Yusuf Alaihis Salam, yaitu ketika sang suami tidak ada di rumah, Zulaikhah benar-benar tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, lalu secara terbuka menggoda Nabi Yusuf Alaihis Salam.

Beruntunglah serta selamatlah mereka berdua karena Nabi Yusuf menolak untuk berzina, untuk menghindar dari godaan-godaan perzinaan, Nabi Yusuf Alaihis Salam kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar beliau dimasukkan ke dalam penjara sebagaimana termaktub dalam Surah Yusuf, ayat 33:

َقالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

Setelah berdoa seperti itu, Nabi Yusuf Alaihis Salam dipenjarakan atas perintah suami Zulaikhah meski beliau tidak bersalah.

Tapi memang begitulah doa Nabi Yusuf Alaihis Salam kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala supaya dijauhkan dari Zulaikhah.

Dengan dimasukkannya Nabi Yusuf Alaihis Salam ke dalam penjara, maka terbentuklah opini publik bahwa dalam kasus percobaan perzinaan antara Zulaikhah dan Nabi Yusuf Alaihis Salam , Nabi Yusuflah Alaihis Salam yang bersalah.

Beliau tidak keberatan dengan opini publik seperti itu meski beliau jelas-jelas tidak bersalah, bagi Nabi Yusuf Alaihis Salam menghindari perzinaan itu lebih penting dari pada sekedar mempertahankan nama baik beliau.

Kesediaan beliau untuk dipenjara juga beliau maksudkan untuk menjaga nama baik serta kehormatan keluarga majikannya, beliau meyakini bagaimanapun Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih tahu tentang hal yang sebenarnya terjadi.

Allah benar-benar mengabulkan doa Nabi Yusuf dengan memasukkannya ke dalam penjara sebagaimana dikisahkan dalam Surah Yusuf, ayat 34:

فاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Maka Tuhannya memperkenankan do`a Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Banyak hal bisa kita ambil pelajaran dari kasus Nabi Yusuf dan Zulaikhah ini

1. Setan akan selalu menggoda kepada lelaki maupun perempuan untuk melakukan perzinaan, maka seharusnya kita berhati-hati dalam mempekerjakan seorang pembantu dalam keluarga kita.

Sebaiknya kita pilih seorang pembantu, yang secara fisik tidak cukup menarik, bisa karena faktor usia yang sudah agak lanjut, atau faktor penampilan fisik yang tidak mempesona karena tidak cukup tampan ataupun cantik.

Seorang suami tidak sebaiknya mencarikan pembantu lelaki yang cukup tampan bagi istrinya, demikian pula sebaliknya tidak sebaiknya, semuanya itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena setan selalu menggoda manusia setiap saat.

2. Pihak yang mengawali dalam menggoda lawan jenis untuk melakukan perzinaan tidak selalu lelaki, bisa saja yang memulai menggoda adalah pihak perempuan sebagaimana Zulaikhah.

Hal ini bisa terjadi karena pihak perempuan berada dalam posisi yang lebih kuat baik secara sosial maupun ekonomi, dengan kata lain, seorang perempuan yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pada seorang lelaki yang tampan dan muda serta berada dibawah kekuasaannya, akan menghadapi kemungkinan lebih besar untuk tergoda, maka kewaspadaan diri dengan selalu mengingat Allah Suhanahu menjadi sangat penting sebagai benteng iman.

Kemaksiatan sesungguhnya tidak akan terjadi begitu saja tanpa adanya niat serta kesempatan untuk melakukannya, jika ada niat tetapi tidak ada kesempatan, maka suatu kemaksiatan sulit terlaksana.

Sebaliknya, jika kesempatan ada, tetapi tidak ada niat, maka suatu kemaksiatan juga sulit terjadi, oleh sebab itu usaha kita untuk tidak menciptakan kesempatan demi menghindari terjadinya perzinaan dalam rumah tangga kita menjadi hal penting yang secara terus menerus harus selalu kita lakukan.

Dalam kaitan itu, para orang tua baiknya juga memperhatikan kamar-kamar bagi anak-anaknya, kamar bagi anak laki-laki dan anak perempuan harus terpisah dengan dilengkapi pintu yang cukup menjamin kenyamanan serta keamanan.

Ini semua untuk menghidari terciptanya kesempatan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan sebab setan selalu menggoda manusia kapan saja dan di mana saja.

3. Terkait dengan hadits tersebut bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberikan perlindungan di hari Kiamat kepada siapa saja yang menolak berzina, maka siapa pun, baik perempuan maupun lelaki yang menolak berzina sebagaimana Nabi Yusuf Alaihis Salam dengan alasan takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendapat perlindungan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mereka dijamin keselamatan serta kenyamanannya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seseorang yang hatinya selalu bergantung atau terikat pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala lalu berkumpul serta berpisah kerana Allah Subhanahu Wa Ta’ala, orang-orang yang selalu ikhlas dalam bersedekah serta seseorang yang ketika berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kesendiriannya selalu meneteskan air matanya.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *