Kisah Tragis Si Penjual Agama

Diposting pada

Kisah Tragis Si Penjual Agama – Rambu Islam, cerita tentang seorang pelayan Nabi Musa yang menjual perkataan Nabi bernasib tidak baik.

Dikisahkan ada seorang yang dulunya senantiasa melayani Nabi Musa as. Setelah lama melayani Nabi Musa As, kemudian dia pergi dan mulai mengobral apa yang telah dikatakan Nabi Musa AS. Terkadang dia berkata, “Musa ialah Nabi pilihan Allah berkata padaku ini dan itu.” Terkadang ia berkata, “Musa yang telah diselamatkan oleh Allah berkata padaku ini dan itu.” Terkadang ia mengatakan, “Musa yang pernah diajak bicara oleh Allah bercerita padaku ini dan itu.” Ia mengumbar perkataan-perkataan Nabi Musa demi memperlihatkan ketinggian derajatnya dan menumpuk harta, hingga pada akhirnya dia menjadi kaya raya.

 

Suatu ketika Nabi Musa as ingat pada mantan pelayannya tersebut. Beliau mulai menanyakan mengenai kabarnya kepada orang-orang yang menemuinya, akan tetapi tidak ada sedikit pun kabar yang datang mengenainya. Hingga akhirnya terlihat seorang laki-laki dengan dibawanya seekor babi yang dilehernya terdapat tali berwarna hitam. Nabi Musa AS bertanya kepadanya,

 

“Apakah kamu tahu bagaimana kondisi pelayanku si Fulan?”

 

“Ya, Aku tahu. Babi ini adalah dia.” katanya.

 

Terkejutlah Nabi Musa as, bagaimana bisa orang yang pernah menjadi pelayannya berubah menjadi seekor babi. Maka Nabi Musa kemudian berdoa kepada Allah SWT:

 

“Ya Tuhanku, aku mohon supaya engkau mengembalikannya seperti semula sehingga aku dapat bertanya apakah sebab apa ia menjadi seperti ini.”

 

Allah azza wa jalla mewahyukan kepada beliau, “ Jika engkau berdoa kepada-Ku sebanyak doa Adam dan semua keturunannya, Aku tidak akan mengabulkannya. Akan tetapi Aku kabarkan kepadamu mengapa Aku berlaku demikian kepadanya. Adalah karena ia mencari kekayaan dunia dengan agama.”

 

Inilah akibat untuk para dai yang menjual agamanya demi dunia. Akibat di akhirat sudah pasti lebih keras dan pedih. Maka hati-hati dengan ilmu agama, janganlah sembarangan mengutak-atik hanya untuk kepentingan duniawi semata.

 

(Sumber kitab Ihya Ulumidinn)

 

Sumber : forsansalaf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *