Pentingnya Berdoa Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Diposting pada

Hati gelisah tertimpa musibah, atau urusan-urusan lain baik yang berhubungan dengan urusan duniawi maupun akhirat, pada hakikatnya adalah ciptaan Allah subhânahȗ wa ta’âlâ.

Sehingga Allah sendiri yang akan mampu bekerja menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh hamba-Nya, ikhtiar manusia secara lahiriah merupakan media pelengkap sebagai umat muslim yang memang sepatutnya berusaha seperti demikian.

Berapa banyak orang yang sama-sama bekerja keras mencari uang, antara si A dan si B misalnya, mungkin dalam hal peras otak serta keringatnya sama, tapi di antara usaha mereka berdua hasilnya tidak sama.

Jawabnya karena ada faktor yang lain yang mempengaruhi itu, Latar belakang akademisi, skill, srta yang lainnya bertindak sebagai perantara atauu wasilah saja.

Meyakini ada faktor yang tidak bisa diduga inilah, kita perlu tau bahwa terdapat dzat yang maha pengatur berbagai macam kejadian tersebut

Mulai rezeki, mati, keruwetan lika-liku hidup atau apa pun bentuknya, ada dzat yang mengatur yaitu Allah subhânahȗ wa ta’âlâ.

Dalam al-Qur’an dikisahkan bagaimana cerita Nabi Zakariya yang sudah tua renta, di usianya yang ke-90 serta istrinya yang mandul, setelah ia berdoa, kemudian diberi keturunan oleh Allah berupa anak yang diberi nama Yahya.

Seperti pula Nabi Musa yang lari meninggalkan kaumnya, setelah ia berdoa, selain mendapatkan tempat perlindungan yang layak, ia juga ditemukan jodohnya, serta masih banyak cerita yang lain sebagainya.

Sebagai makhluk berakal, tentu kita mempunyai keinginan yang beraneka ragam, hutang bisa lunas, mempunyai anak yang patuh, serta sejenisnya, Allah memberikan solusinya, yaitu dengan cara berdoa, memohon kepada-Nya.

Dalam Al-Qur’an, Allah subhânahȗ wa ta’âlâ berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian’.” (QS Ghâfir: 60).

Menurut as-Sadiy, kalimat ud’ûnî di atas mempunyai arti mintalah kalian niscaya akan aku kabulkan, pendapat as-Sadiy ini selaras dengan cerita Qatadah yang bersumber dari Ka’b.

Di antara tiga keistimewaan umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan umat sebelumnya adalah, jika kalimat perintah berdoa pada Nabi Muhammad berbentuk jama’ (plural) kepada semua umatnya.

Sedangkan perintah yang turun pada nabi-nabi sebelumnya, frasa perintahnya hanya berbentuk tunggal (mufrad) kepada para nabi saja sebagaimana pada kalimat berikut ini:

اُدْعُنِيْ أَسْتَجِبْ لَكَ

Artinya: “Berdoalah kamu, niscaya akan Kukabulkan bagimu.”

Dari ayat di atas, kita dapat mambil pelajaran, walaupun Allah maha pengatur, tapi Allah tidak menutup celah bagi hamba-Nya untuk menyampaikan uneg-uneg atas segala keinginan yang ingin dicapai hamba.

Oleh karena itu, Allah menyuruh berdoa, sebuah ritual penyampai usulan hamba kepada Tuhan-Nya.

Ibnu Abbas mempunyai pandangan sedikit berbeda dari as-Sadiy dalam menafsiri ayat tersebut, paman Rasulullah ini menafsiri arti ud‘ûnî dengan arti “Esakanlah aku, niscaya akan Aku ampuni dosa kalian.” Sedangkan menurut Jarir bin Abdullah menyatakan “Sembahlah aku, niscaya akan Aku ikuti apa kemauan kalian.” (Lihat: Ali bin Muhammad al-Mawardi, al-Nukat wa al-‘Uyȗn Tafsir al-Mawardi, Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, juz 5, halaman 162-163)

Orang berdoa secara otomatis ia sedang melakukan ibadah, pada lanjutan ayat di atas menyinggung tentang orang yang sombong dari pada ibadah Allah.

Oleh sebab itu, ada ulama yang menyebut, orang yang enggan berdoa sama dengan sombong.

Dilihat dari dalil hadits, terdapat banyak sekali dalil-dalil tentang fadlilah-fadlilah berdoa, di antaranya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا

Artinya: “Tidak ada seorang Muslim yang berdoa dengan tidak disertai dengan doa dan memutus hubungan persaudaraan kecuali Allah pasti akan memberikannya salah satu dari tiga hal. Bisa disegerakan doanya untuk dikabulkan, mungkin pula Allah menyimpannya sehingga dibalas di akhirat kelak. Dan kemungkinan pula Allah akan menghindarkan dia dari kejadian buruk yang menjadi ganti setara dari doa kebaikan yang ia panjatkan.” (HR. Ahmad)

Doa yang tidak langsung dikabulkan oleh Allah, terdapat banyak kemungkinan, mungkin Allah akan membalasnya dengan yang dibayangkan hamba atas doanya itu sendiri, atau kemungkinan-kemungkinan lain.

Yang paling penting bagi hamba adalah husnudh-dhan atau berprasangka baik kepada Allah.

Dalam hadits Qudsi dikatakan:

اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِىْ بِيْ

Artinya: “Aku sebagaimana dugaan hambaku kepadaku.”

Allah itu Dzat yang maha pemurah, Dia malu jika ada hamba meminta kepada-Nya namun saat usai berdoa, seorang hamba pulang dengan tangan hampa.

Meskipun tetap berdasar catatan, etika serta aturan berdoa harus diperhatikan betul oleh seorang hamba supaya doanya dikabulkan Allah subhânahȗ wa ta’âlâ.

(Ahmad Mundzir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *