Perbedaan Hadas Dengan Najis

Diposting pada

Dalam istilah bersuci atau thaharah, kita sering kali mengenal dua istilah, yaitu hadats dan najis.
Dua istilah ini memiliki implikasi yang berbeda sehingga kita harus mampu membedakan antara dua istilah ini.

Untuk membedakan keduanya, kita perlu mengetahui ciri dari masing-masing istilah najis maupun hadats.

Perbedaan keduanya bisa dilihat dari dua hal.

1. Ditinjau dari segi hakikatnya.
2. Ditinjau dari segi implikasi serta hukum fikihnya.

Adapun perbedaan antara hadats dan najis ditinjau dari segi hakikatnya, najis adalah perkara yang zhahir dan bisa dilihat, seperti air kencing, darah, serta yang lain sejenisnya, sedangkan hadats adalah perkara maknawi yang ada di dalam jasad serta tidak dapat dilihat oleh panca indra.

Adapun perbedaan secara implikasi dan hukum fikihnya, bisa dilihat dari beberapa hal:

1. Dari segi niatnya
Niat menjadi syarat untuk menghilangkan hadats, sedangkan untuk menghilangkan najis, tidak dibutuhkan niat.

2. Air
Dalam menghilangkan hadats, air juga menjadi syarat, sedangkan untuk menghilangkan najis, tidak harus dengan air, istinja’ misalkan, bisa dilakukan dengan menggunakan batu.

3. Penghilangan najis diharuskan untuk membersihkan mahal atau tempat najis sampai hilang ain atau zat najisnya.
Sedangkan untuk hadats, cukup membasuh seluruh anggota badan jika hadats besar, dan cukup membasuh anggota wudhu (berwudhu) jika hadats kecil.

4. Menghilangkan hadas tidak perlu membeda-bedakan dan tartib.
Misalnya, ketika pada suatu waktu kita kentut, kemudian buang air kecil dan buang air besar, maka tidak harus menghilangkan hadats tersebut satu per satu, melainkan langsung sekaligus.
Ini berbeda dengan najis, jika dalam satu waktu di tangan kita terkena kotoran binatang, setelah itu kaki dan muka, maka kita harus membersihkannya satu per satu.

5. Berkaitan dengan pengganti dari menghilangkan hadats dan najis.
Jika hadats, maka menghilangkannya bisa digantikan dengan tayamum, sedangkan najis, tidak bisa digantikan dengan tayamum.
Namun pendapat ulama Hanabilah mengatakan bahwa membersihkan najis bisa diganti dengan tayamum. Wallahu a’lam.

(M Alvin Nur Choironi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *