Perkelahian Iblis Dan Orang Alim

Diposting pada

Perkelahian Iblis Dan Orang Alim – Rambu Islam, kisah iblis dan pohon sesembahan orangp-orang yang hendak ditebang oleh orang alim.


Mengerjakan perbuatan kebaikan, seharusnya disertakan dengan niat yang baik pula. Sebagaimana dengan puasa yang kita lakukan sekarang, kita niatkan untuk menggapai ridha Allah.

Bukan hanya itu, jika kita telah memiliki niat yang baik, semestinya kita terus pertahankan, supaya tidak terjadi suatu hal, sebagaimana kisah seorang Bani Israil yang shaleh dan tekun beribadah kepada Allah berikut ini.

Suatu ketika ia memperoleh kabar, di tempatnya ada kelompok penyembah pohon. Mendengar hal tersebut ia bergegas mengambil kampak dan pergi untuk menebang pohon tersebut.

Mengetahui hal tersebut, Iblis berusaha membendung niat orang alim itu dengan menyamar menjadi orang tua. Di tempat itu, Iblis membujuk supaya ia mengurungkan niatnya.

Iblis bertanya ”Apa yang akan kamu perbuat?”

”Aku akan menebang pohon ini!” jawab orang alim tersebut.

“Apa salahnya pohon ini?”

“Ia menjadi sesembahan orang-orang selain Allah.”

Iblis terus berusaha membujuknya, namun orang alim itu tetap mantap dengan niatnya untuk menebang pohon. Singkat cerita, akhirnya terjadi perkelahian antara orang alim dan iblis yang dimenangkan oleh orang alim.

Bahkan, ia dapat membanting iblis. Akan tetapi, munculah kelicikan iblis. ”Lepaskan
aku agar aku bisa menjelaskan maksudku yang sebenarnya,” kata iblis.

Tidak berhasil dengan cara pertama, kemudian Iblis memakai cara yang lain, yaitu dengan menawari harta. ”Bukankah kamu orang yang miskin. Kamu juga sering meminta-minta demi menyambung hidupmu?” tanya iblis.

“Tinggalkanlah kebiasaan yang buruk dan memalukan itu. Aku akan memberi dua dinar setiap malam untuk kebutuhanmu supaya kamu harus meminta-minta lagi. Ini lebih berguna untuk kamu juga untuk kaum muslimin yang lain ketimbang kamu menebang pohon ini,” kata Iblis.

Sejenak orang alim itu terdiam . Ternyata ia mulai terpengaruh bujukan Iblis. Kemudian ia membatalkan niatnya untuk menebang pohon. Hingga akhirnya ia pulang ke tempatnya dan beribadah seperti biasanya.

Di keesokan paginya ia mencoba membuktikan janji si iblis. Ternyata benar. Diterimanya uang dua dinar itu dengan rasa senang. Tetapi itu hanya berjalan dua kali. Esok harinya ia tidak lagi mendapatkan uang. Begitu juga dengan hari-hari berikutnya.

Merasa tertipu, ia pun marah dan bergegas mengambil kampak dan sedgera pergi untuk menebang pohon yang dahulu batal ditebangnya.

Ternyata iblis kembali menyambutnya dengan menyamar sebagai orang tua renta. ”Mau kemana kamu wahai orang alim?” tanya Iblis.

”Aku ingin menebang pohon itu,” ucap sang alim.

“Kamu tidak akan sanggup menebang pohon itu lagi,” jawab Iblis.

Orang alim itu sekuat tenaga melawan Iblis dan berusaha untuk membantingnya sebagaimana yang pernah ia lakukan tempo hari. Namun, untuk kali ini orang alim itu tampak tidak memiliki tenaga guna mengalahkan iblis seperti yang dulu ia lakukan. Bahkan, kali ini Iblis yang memenangkan perkelahian.

”Kamu telah mengalahkanku sekarang. Jawablah, mengapa kamu bisa mengalahkan aku?” tanya orang alim.

”Itu sebab dahulu kamu marah karena Allah dan berniat demi kehidupan akhirat. Namun kini kamu marah sebab keperluan dunia, yaitu sebab aku tidak memberikan uang lagi kepadamu.”
Dikutip dari kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam al-Ghazali, Ajie Najmuddin.RED NU Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *