Perwira Jepang Muslim Pandai Berbahasa Jawa

Diposting pada

Dalam beberapa catatan sejarah selama Indonesia terjajah, umat Islam khususnya kalangan pesantren kerap bersinggungan dengan penjajah karena sikapnya yang tidak mau takluk begitu saja.
Bahkan, pesantren menjadi wadah pergerakan nasional untuk membebaskan diri dari kungkungan penjajahan.

Interaksi kalangan pesantren dengan intensitas cukup masif terjadi saat Indonesia dijajah oleh Nippon atau Jepang.
Hal ini disebabkan, Jepang mempunyai perhatian khusus terhadap peran penting tokoh-tokoh Islam di Indonesia.

Untuk menindaklanjuti sorotannya terhadap para kyai serta tokoh umat Islam, Jepang menempatkan sejumlah perwira Muslim untuk menempel para tokoh Islam sebagai agen inteligen Jepang (Beppan).
Para intel ini tidak hanya mengawasi gerak-gerik para tokoh Islam, tetapi juga kerap mengikuti forum-forum pengajian.

Salah seorang perwira Muslim Jepang ialah Naobuharo Ono yang mempunyai nama Muslim Abdul Hamid Ono, Ia bertugas mengawasi KH Hasyim Asy’ari yang dianggap oleh Jepang sebagai tokoh Muslim yang mempunyai pengaruh besar di kalangan rakyat Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, Abdul Hamid Ono terkesan dengan kepribadian Kyai Hasyim Asy’ari serta sejumlah kyai lain seperti Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Wahid Hasyim.
Meskipun aktivitas intelijen tetap berjalan sebagai tanggung jawabnya melaporkan ke Beppan, Abdul Hamid Ono kerap membantu beberapa diplomasi para kyai dengan para perwira pendudukan Jepang.

Catatan sejarah yang cukup populer, Abdul Hamid Ono membantu Kyai Wahid Hasyim dan Kiai Wahab Chasbullah untuk melakukan diplomasi pembebasan Kyai Hasyim Asy’ari yang ditangkap Jepang pada tahun 1942 karena dianggap mendalangi pemberontakan di Cukir, Jombang.
Padahal tuduhan tersebut tidak benar, Kyai Hasyim Asy’ari tidak tahu-menahu atas kabar pemberontakan itu.
Praktis, tuduhan tersebut dibuat-buat oleh Jepang agar dapat menangkap Kiai Hasyim.

Peran penting Abdul Hamid Ono sebagai pembuka jalur komunikasi serta diplomasi antara pihak Pesantren Tebuireng dengan para perwira Jepang karena ia adalah pejabat dinas rahasia Jepang yang dekat dengan keluarga kyai Hasyim Asy’ari.
pada saat itu, Nobuharo Ono bertugas di Gresik Jawa Timur, semasa pendudukan Belanda dan sering berkunjung ke Pesantren Tebuireng. (Buku Seri Tempo: Wahid Hasyim, Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan, 2011)

Hal serupa juga dinyatakan oleh H. Aboebakar dalam bukunya, Sejarah Hidup kyai Wahid Hasyim (2011), yang memastikan peran penting Abdul Hamid Ono dalam membuka pintu komunikasi dan diplomasi agar KH Wahid Hasyim, putra sulung Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, bersama KH Wahab Chasbullah dapat menemui pembesar-pembesar Negeri Samurai di Jakarta.

Akhirnya komunikasi serta diplomasi yang dilakukan oleh keduanya membuahkan hasil dengan dikeluarkannya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dari tahanan oleh pihak Jepang pada 18 Agustus 1942, empat bulan setelah Hadratussyekh digelandang dari Pondok Pesantren Tebuireng.

Di luar aktivitas intelijen dan membantu berbagai diplomasi para kyai dengan pihak Jepang, Abdul Hamid Ono merupakan salah satu intel yang mempunyai sikap santun serta tutur kata yang halus.
Karakter inilah yang membedakan dengan para intel lain yang hanya bertugas sesuai tanggung jawabnya.
seperti Haji Saleh Suzuki dan Abdul Mun’im Inada, Nama terakhir punya tugas memepet Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, Kala Jepang mendarat, Inada langsung mengunjungi Habib Ali disertai Kolonel Horie, perwira Jepang yang ditugaskan mengurusi perkara Islam di Indonesia.

Sikap Ono itu pula yang menjadi pertimbangan Kyai Wahid Hasyim untuk selalu percaya kepadanya dalam hal komunikasi serta diplomasi.
Abdul Hamid Ono cukup lama menempati Gresik dan menikahi seorang perempuan asal Gresik, Karena asal-usul inilah yang memungkinkan Ono cukup pandai dalam berbahasa Jawa.

Hal ini ditunjukkan ketika ia menemui Kyai Wahid Hasyim sekitar tahun 1943, saat itu Kyai Wahid sedang berbincang ringan namun serius dengan Kyai Saifuddin Zuhri.
Kyai muda asal Sokaraja, Banyumas ini memimpin Ansor Nahdlatul Ulama (NU) dan terbiasa berkoordinasi dengan para kiai dan tokoh nasional dalam memimpin pergerakan nasional.

Kediaman Kyai Wahid Hasyim memang tidak pernah sepi tamu, usai sembahyang Ashar diceritakan dalam buku tersebut, datang seorang tamu, bertubuh padat dan pendek dengan wajah seperti seorang Tionghoa, dia mengenakan baju jas kuning gading dengan kain sarung serta berpeci hitam, dia menyeru dengan fasih:

“Asslamu’aalikum warahmatullahi wabarakatuh, wilujeng sampeyan, Gus?” sapa tamu ini kepada Kyai Wahid Hasyim dalam bahasa Jawa dialek Jawa Timur.

“Kulo Abdul Hamid Ono,” ucap dia memperkenalkan diri kepada Kyai Saifuddin Zuhri.

Kyai Saifuddin Zuhri sendiri segera teringat nama seorang Jepang yang bertugas mendampingi atau lebih tepatnya mbayang-mbayangi Kyai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahid Hasyim. “Oh…ini dia orangnya!” batin Kiai Zuhri.

“Kulo wau langkung mriki, tasih kathah tamu (saya tadi lewat sini, masih banyak tamu),” ucap Abdul Hamid Ono.

“Konco-konco sami kepengin pinanggih kulo,” jawab Kiai Wahid Hasyim bahwa mereka itu teman-teman yang juga ingin menjumpainya menunjuk kepada para tamu yang sudah pulang.

(Fathoni Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *