Pesan Nabi Isa Alaihis Salam Untuk Penuntut Ilmu

Diposting pada

Nabi Isa Alaihis Salam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menempati urutan ke-24 dari 25 Nabi serta Rasul yang wajib diketahui oleh umat Muslim.
Terlahir dari seorang ibu pilihan bernama Maryam, Nabi Isa Alaihis Salam disebutkan dalam Al-Quran sebagai Rasul yang diperkuat dengan Roh Kudus:

وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ

Artinya, “Kami telah berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran (mukjizat) serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Quds,” (Al-Baqarah ayat 87).

Menurut jumhur (mayoritas) mufassir, maksud Roh Kudus adalah malaikat Jibril, namun ada yang mengatakan bahwa Roh Kudus yaitu keimanan yang dijadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguatkan hamba-hamba-Nya.

Sebagai Rasul yang diutus kepada kaum Bani Israil, Nabi Isa Alaihis Salam dibekali oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala beberapa kemampuan yang relevan dengan zamannya, yaitu kemampuan dalam ilmu pengobatan.
Tercatat dalam sejarah bahwa Nabi Isa Alaihis Salam mampu menyembuhkan seseorang berpenyakit kusta, bahkan atas izin Allah mampu membangkitkan orang yang sudah meninggal meskipun hanya sementara.
Kemampuan-kemampuan semacam itu tidak lepas dari kemampuannya dalam menguasai ilmu atas seizin Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain mementingkan ilmu, Nabi Isa AS juga memberikan perhatian yang lebih terhadap para pencari ilmu. Dikutip oleh Imam Al-Ghazali, berikut ini adalah beberapa pesan Nabi Isa terhadap para penuntut ilmu:

وقال عيسى صلى الله عليه وسلم من علم وعمل وعلم فذلك يدعى عظيماً في ملكوت السموات

Artinya: “Berkata Nabi Isa Alaihis Salam : “Barangsiapa yang mempelajari ilmu, mengamalkannya, dan mengajarkannya, maka ia akan mendapatkan undangan yang agung di kerajaan langit,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Beirut, Darul Ma’rifat, 2000, juz I, halalaman 10-57).

Dari pernyataan di atas bisa kita pahami bahwa ada tiga tahapan bagi seorang penuntut ilmu, yaitu mempelajarinya hingga paripurna, kemudian mengamalkannya, dan mengajarkannya. Tiga tahapan ini masing-masing dapat berpotensi membuahkan pahala dari Allah SWT, dan ketiganya harus berurutan, dan dilaksanakan secara keseluruhan. Seorang pelajar tidak hanya cukup mengetahui ilmu tanpa pengamalan dan pengajaran. Sebaliknya seseorang juga akan mustahil bisa dengan baik menjadi pengamal dan pengajar tanpa adanya pembelajaran yang paripurna.

Nabi Isa Alaihis Salam juga memberikan peringatan bagi para pelajar:

وقال عيسى عليه السلام ما أكثر الشجر وليس كلها بمثمر وليس كلها بطيب وما أكثر العلوم وليس كلها بنافع

Artinya, “Nabi Isa Alaihis Salam berkata, “Ada banyak pohon, namun tak semua berbuah, dan tak semua berasa nikmat. Demikian pula ilmu, tak semuanya bermanfaat.”

Pernyataan di atas merupakan peringatan dari Nabi Isa Alaihis Salam bahwa tdiak semua ilmu itu bermanfaat, ada beberapa ilmu yang sia-sia jika kita pelajari, seperti ilmu nujum, perdukunan, atau santet.
Demikian pula pada tahapan selanjutnya, ada kalanya ilmu yang dipelajari sudah benar, namun menjadi sia-sia seperti halnya seorang pakar fikih yang tidak mengamalkan ilmunya dalam ibadah sehari-hari.

Ketidak sinkronan antara ilmu dan amal disinggung juga oleh Nabi Isa Alaihis Salam sebagai berikut:

وقال عيسى عليه السلام لا تضعوا الحكمة عند غير أهلها فتظلموها ولا تمنعوها أهلها فتظلموهم كونوا كالطبيب الرفيق يضع الدواء في موضع الداء

Artinya, “Nabi Isa Alaihis Salam berkata, ‘Jangan letakkan hikmah pada selain ahlinya. Dengan begitu kalian berlaku aniaya atas hikmah tersebut. Jangan pula kalian menghalangi hikmah itu dari ahlinya karena dengan begitu kalian menganiaya mereka. Jadilah seperti dokter profesional yang tepat dalam memberikan resep sesuai dengan penyakit pasien.”

Dalam pernyataan ini, Nabi Isa Alaihis Salam menyayangkan sikap para pencari ilmu yang sebenarnya bisa menjadikan ilmu tersebut sebagai hikmah, namun akibat tidak ada pengamalan, maka ilmu tersebut malah menyesatkan mereka.
Hal tersebut digambarkan oleh Nabi Isa Alaihis Salam, seumpama seorang dokter yang salah memberikan resep kepada pasien yang tidak berhak menerimanya.

Begitu besarnya kekhawatiran Nabi Isa Alaihis Salam pada para pencari ilmu namun tidak mengamalkannya, hingga ia berkata:

وقال عيسى عليه السلام لا تعلقوا الجواهر في أعناق الخنازير فإن الحكمة خير من الجوهر ومن كرهها فهو شر من الخنازير

Artinya, “Nabi Isa Alaihis Salam berkata, ‘Jangan kau kalungkan berlian pada leher babi. Hikmah itu lebih baik dari berlian. Siapa saja yang membenci hikmah, maka ia lebih buruk dari babi.”

Subhânallâh, masyâ Allâh, semoga kita terlepas dari sindiran-sindiran Nabi Isa Alaihis Salam. Wallahu a’lam.

(Muhammad Ibnu Sahroji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *