Riya Ketika Puasa

Diposting pada

Riya Ketika Puasa – Rambu Islam, sifat riya dalam islam ialah suatu sifat yang tercela yang perlu dijauhi misal riya dalam beribadah.

Berpuasa merupakan amalan-amalan yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh orang yang mengerjakan dan Allah Ta’ala. Tidak seperti ibadah-ibadah lahir yang lain semisal sholat, haji, atau ibadah-ibadah lahir yang lainnya.

Namun, dalam hadits diterangkan bahwa seorang dapat mengatakan, dirinya sedang melakukan puasa bila ada orang yang mencela dan mengajaknya untuk bertengkar.

Namun, yang harus diwaspadai ialah disaat ingin mengucapkan “Saya sedang berpuasa.” Ulama fiqih berpesan supaya disaat mengatakan demikian tidak dicampuri dengan rasa riya. Lebih lagi dalam situasi yang lain, yang tidak memerlukan seseorang untuk memberi tahu orang lain bahwa dirinya sedang melakukan puasa.

Oleh sebab itu penting menghindari riya ketika hendak mengucapkan bahwa kita sedang mengerjakan puasa kepada orang lain. Menurut Al-Bujairimi dalam kitab Hasiyyatul Bujairimi alal Khatib, memang puasa merupakan suatu ibadah yang jauh dan terhindar dari tindakan riya sebab puasa merupakan suatu ibadah yang tersembunyi. Tetapi, riya dapat terjadi bukan di dalam amalan puasa, akan tetapi dalam ucapan dan perkataan orang sedang puasa yang mengatakan ke orang lain bahwa dia dalam kondisi berpuasa.

Bahkan Nabi SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Thabrani.

“Barangsiapa yang mengerjakan puasa namun ia riya, sungguh dia telah berbuat syirik.”

Hal ini seperti halnya yang kita tahu bahwa puasa ialah kepunyaan Allah dan Allah saja yang akan memberikan pahalanya. Maka seharusnya puasa itu cuma untuk Allah. Disaat riya ketika berpuasa berarti seakan-akan puasa itu untuk manusia. Inilah yang dinamakan syirik dalam hadits ini.

Untuk menjauhi hal tersebut, maka Syekh Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy dalam Ianatut Thalibin memberikan anjuran supaya tidak perlu mengatakan, “Saya sedang berpuasa,” jikalau ditakutkan ada sifat riya. Sebab yang terpenting ialah bukan mengetakan demikian, melainkan tujuan dari berkata demikian dalam hadits diatas ialah untuk menasihati (al-wa’du). Bahkan disunnahkan untuk tidak menunjukkan bahwa dirinya sedang berpuasa.

Karena itu dalam berpuasa kita seharusnya bisa menghindari sifat-sifat yang bisa menghilangkan pahala puasa seperti riya. Wallahu a‘lam.

(M Alvin Nur Choironi.RED) NU Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *